Jakarta, Indonesia: Action at the ASEAN building for ‘Death To Duterte’ campaign Day 5 (Eng/Indo)

dtd

Received on 02.03.17:

Day 5: Anarchist/ drug war prisoner campaign on Jakarta streets calling for “Death to Duterte”

Today we undertook an action directly targeting the Indonesian ASEAN (Association of South East Asian Nations) offices. As we traveled through the city toward our destination, we were overwhelmed by the existential alienation and horror of capitalism. The fortresses of capital-multinational corporations and 5 star hotels coldly  towering above us- we saw only soldiers and cops undertaking ‘security operations’ to provide protection for an overfed, hypocritical Monarch, who is joined by his 1500 person ‘entourage’ whilst holidaying in Indonesia. This person is also complicit in the murder of civilians for arbitrary so called “crimes”. With venom in our hearts, we fervently wished for tools aside from pens, paint, words and rage in our hearts to send the message we wanted to. Our masked faces disguised our disdain and contempt for systems which allow fascists like Duterte and said Monarch to fester and spread their poisonous ideologies and hypocrisies.

As we arrived at the ASEAN building, we undertook a very quick hit and run exercise, throwing 50 printed copies of a flyer thru the highly guarded fences of this building of regional hypocrisy and complicity. In futility, given the ineptitude of their recent responses to the junky genocide in the Philippines, we hope that these flyers will be delivered to the so-called ASEAN “human rights” council and our rage read and understood (we have no real confidence they will act upon it though).

The flyers, in both Bahasa Indonesian and English,  read “Since President Rodrigo Duterte’s 2016 election to power in the Philippines, based on a populist, nationalist, pro-cop ‘law and order’ campaign, over 9000 illicit drug users –the majority of whom are economically and socially marginalised, and include underclass sex workers, trans people and men who have sex with men- have been indiscriminately slaughtered in bloody extrajudicial rampages by killer cops and vigilante Catholic citizen groups drunk on the vilest forms of morality and urged on by Duterte’s guarantee of impunity.

International bodies, including the ‘UN and ASEAN families’, have responded with their usual incompetence- evidence that they care more about maintaining the regional economic status quo and trade deals than any ideals pertaining to human rights. Meanwhile Duterte’s junky genocide continues unabated. According to Filipino friends, local vigilantes have created ‘black lists’ naming drug users and other ‘undesirables’ to target. Many drug users are terrified for their safety and are attempting to escape the slaughter by voluntarily reporting themselves to State authorities in an attempt to preempt visits from the death squads. Subsequently, thousands of people been detained in overcrowded disease infested disused Filipino military camps deemed “rehabilitation centers”. There are no release dates for people detained in these barbaric “rehabilitation” centers which function as ad-hoc prisons, complete with screws who subject drug users to torturous “character building” practices” to “atone for their sins” and activities designed to instill (by force) nationalist pride as a “rehabilitation” strategy.

In solidarity with our friends being slaughtered daily, we urge you to resist this new form of “acceptable” genocide by whatever means are available to you!

Death to Duterte!”

We send our apologies for the poor action photos; however, the attached one is the only one which does not compromise our identities.

The campaign continues! Death to Duterte!

******

Hari 5: Anarkis / obat perang tahanan kampanye di jalan-jalan Jakarta menyerukan “Matilah Duterte”

Hari ini kita melakukan tindakan langsung menargetkan kantor ASEAN Indonesia. Ketika kami bepergian melalui kota menuju tujuan kami, yang kami kewalahan oleh keterasingan eksistensial dan horor kapitalisme. Benteng perusahaan multinasional modal dan hotel bintang 5 dengan dingin menjulang di atas kita-kita hanya melihat tentara dan polisi melakukan ‘operasi keamanan’ untuk memberikan perlindungan untuk kekenyangan, munafik Monarch, yang bergabung dengan-Nya 1500 orang ‘rombongan’ sementara berlibur di Indonesia. Orang ini juga terlibat dalam pembunuhan warga sipil untuk sewenang-wenang yang disebut “kejahatan”. Dengan racun di dalam hati kita, kita sungguh-sungguh berharap alat bantu selain dari pena, cat, kata-kata dan kemarahan dalam hati kita untuk mengirim pesan yang kami ingin. Wajah bertopeng kami menyamar penghinaan dan penghinaan kami untuk sistem yang memungkinkan fasis seperti Duterte dan berkata Monarch bernanah dan menyebarkan ideologi beracun dan kemunafikan.

Ketika kami tiba di gedung ASEAN, kami melakukan hit sangat cepat dan menjalankan latihan, melemparkan 50 eksemplar dicetak dari selebaran melalui pagar yang sangat dijaga bangunan ini kemunafikan regional dan keterlibatan. Dalam kesia-siaan, mengingat kebodohan tanggapan terbaru mereka untuk genosida bermutu rendah di Filipina, kami berharap bahwa selebaran tersebut akan dikirimkan ke yang disebut ASEAN “hak asasi manusia” dewan dan kemarahan kita membaca dan mengerti (kita tidak memiliki kepercayaan diri yang nyata mereka akan bertindak atasnya meskipun).

Selebaran, baik dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, baca:“Sejak Presiden Rodrigo Duterte menang pemilu 2016, berdasarkan kampanya yang semuanya popularis, nasionalis, pro-polisi, dan mementingkan kehukuman dan ketertiban – lebih dari 9000 pengguna narkoba [junkies] sudah dibunuh begitu saja.

Dari pengguna narkoba itu, kebanyakan adalah orang2 miskin dan marjinal, termasuk  pekerja seks kelas rendah, banci, dan lelaki sama lelaki. Mereka dibunuh tanpa pandang bulu oleh polisi yang mengamuk di luar hukum, dan juga kelompok masyarakat Katolik yang main hakim sendiri, yang  mabuk dengan moralitas yang paling menghina, dan yang didesakan dengan jaminan Duterte ini untuk impunitas.

Badan-badan internasional, termasuk PBB dan ASEAN, telah merespon dengan kekacauan biasa – bukti bahwa mereka lebih peduli status quo ekonomi dan perdagangan, daripada cita-cita yang berkaitan dengan hak asasi manusia. Sementara genosida terhadap pengguna narkoba terus berlanjut gara-gara Duterte. Menurut teman-teman Filipina, warga setempat telah menciptakan ‘daftar hitam’ untuk menargetkan junkies. Banyak sekali pengguna narkoba tsb yang takut akan dibunuh oleh kelompok-kelompok Duterte, dan berusaha untuk melarikan diri untuk sukarela melaporkan kepada pihak berwenang.

Selanjutnya, ribuan orang sudah ditahan di dalam kamp-kamp bekas militer yang tersesak dan penuh penyakit. Sekarang di kasih nama  “pusat rehabilitasi”. Tidak ada tanggal kebebasan untuk orang yang ditahan, sampai ‘pusat rehabilitasi’ ini  di berfungsi sebagai penjara ad-hoc yang sadis! Lengkap dengan penjaga yang suka menganiaya, memaksa pengguna narkoba untuk memberbaiki ‘karakter’, dan juga memaksa mereka untuk memerasakan kebanggaan nasionalis sebagai strategi ‘rehabilitasi’!

Dalam solidaritas dengan teman-teman kita yang dibantai setiap hari, jangan jangan kau menerima genosida ini! Menolak di mana saja dengan cara apapun!

Duterte harus mati! Bunuh Duterte! Duterte BANGKAI”

Kami mengirim permintaan maaf kami untuk orang miskin Foto tindakan; Namun, salah satu yang melekat adalah satu-satunya yang satu yang tidak kompromi identitas kita.

Kampanye terus! Mati untuk Duterte!

 

This entry was posted in Autonomy, Death To Duterte, Direct Action, Drug Users, Drug War Prisoners, Fuck Duterte, Fuck The War On Drugs, Indonesia, International Solidarity, Jakarta, Mati untuk Duterte, Philippines. Bookmark the permalink.